Indonesia Menyala - Bonus demografi di Provinsi Jambi dinilai sebagai peluang sekaligus tantangan dalam menjaga keberlanjutan pembangunan daerah. Hal tersebut disampaikan Gubernur Jambi, Al Haris, dalam Rapat Koordinasi Daerah Program Bangga Kencana 2026.

Menurut Al Haris, isu kependudukan tidak bisa hanya dibebankan kepada satu lembaga saja, melainkan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.

“Ini bukan hanya tugas satu lembaga, tapi tugas kita bersama. Mulai dari persoalan ibu hamil, stunting, hingga kualitas penduduk,” ujarnya.

Tantangan Bonus Demografi

Al Haris menjelaskan bahwa bonus demografi akan mencapai puncaknya pada 2040, dengan dominasi penduduk usia produktif yang sangat besar.

Data menunjukkan sekitar 68 persen penduduk berada pada usia 15–64 tahun, yang menjadi modal penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tanpa pengelolaan yang baik, kondisi ini justru bisa menjadi beban pembangunan.

“Jika dimanfaatkan dengan baik, ini bisa mendorong ekonomi. Tapi jika tidak, justru menjadi tantangan besar,” tegasnya.

Ancaman Stunting dan Kesehatan

Selain bonus demografi, Gubernur juga menyoroti meningkatnya angka stunting di Jambi yang kini mencapai 17,1 persen.

Ia menekankan perlunya langkah konkret melalui penguatan data, peningkatan kualitas SDM, serta kolaborasi lintas sektor.

“Kenaikan ini harus jadi perhatian serius. Kita perlu langkah progresif agar angka stunting bisa ditekan,” katanya.