Indonesia Menyala - Narasi yang menyebut IPM Jambi stagnan mulai terpatahkan oleh data statistik yang justru menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah derasnya opini publik, fakta empiris sering kali justru terabaikan oleh narasi yang terdengar logis tetapi minim analisis.
Padahal, pembangunan manusia tidak bisa dinilai hanya dari persepsi, melainkan harus berpijak pada data yang terukur.
Data Bicara, Narasi Tertinggal
Data menunjukkan IPM Jambi meningkat dari 73,71 pada 2022 menjadi 75,13 pada 2025.
Kenaikan ini menempatkan Jambi dalam kategori IPM tinggi dan menunjukkan arah pembangunan yang positif.
Pertumbuhan ekonomi yang mendekati 5 persen serta penurunan pengangguran memperkuat indikasi tersebut.
Artinya, narasi stagnasi tidak sepenuhnya sejalan dengan realitas statistik.
Kesalahan Logika dalam Diskursus IPM
Selama ini, percepatan IPM sering dikaitkan secara sederhana dengan pendidikan dan transformasi ekonomi .
Namun pendekatan ini cenderung bersifat tautologis karena hanya mengulang definisi IPM itu sendiri.
Pernyataan tersebut benar secara konsep, tetapi tidak memberikan solusi konkret terhadap persoalan pembangunan.
Struktur Ekonomi Jadi Masalah Nyata
Masalah utama Jambi justru terletak pada struktur ekonomi yang masih berbasis sumber daya alam.




